Saya mengawali usia 24 dengan beberapa rencana.
Rencana untuk membuat keberadaan di dunia tak terasa sia-sia.
Rencana untuk membuktikan mimpi bisa menjadi nyata.
Rencana untuk diterima kerja dan kembali ke Jakarta.
Rencana untuk layak hidup berdua.
Rencana untuk bisa lebih dewasa.
Rencana untuk selalu bahagia.
Lalu, saya kecewa.

Tiga bulan sudah berlalu tanpa jeda.
Belum ada yang bisa diceritakan dengan bangga.
Belum ada panutan sebagai anak pertama.
Belum ada perwujudan dari doa-doa.
Belum ada yang lebih dari biasa.
Belum ada yang istimewa.
Belum ada apa-apa.
Lalu, saya kecewa.

24 seharusnya bagaimana?
Katanya, masih ada sembilan bulan di depan mata.
Katanya, memang akan penuh dengan dinamika.
Katanya, cobalah untuk lebih percaya semesta.
Katanya, ini bukan waktunya putus asa.
Katanya, semua ini masih awal mula.
Katanya, kesempatan itu selalu ada.
Lalu, saya sedikit lega.

Visit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram