Di tahun 2018, usia saya genap 24 tahun. Saya nggak mau menyebut diri masih muda atau mulai tua, tapi cukup dewasa. Dengan menyebut dewasa, saya ingin menyadari bahwa bukan hanya usia yang bertambah, tapi juga tanggung jawab. Khususnya tanggung jawab sama diri sendiri. Udah saatnya saya lebih bisa menjaga diri dan memastikan segala usaha nggak hanya jadi sekadar mimpi. Kalau kata Epictetus, “How long are you going to wait before you demand the best for yourself?”

Di tahun 2018 saya juga banyak belajar. Masih menyambung dengan tanggung jawab di atas, saya ‘bertemu’ dengan beberapa orang untuk mengembangkan diri. Bertemu di sini bukan dalam arti secara fisik, tapi bertemu di Youtube. Jadi kami nggak bertatap muka, tapi saya yang menatap mereka lewat layar.

Mari saya ceritakan beberapa hal tentang mereka.

1. Tyler, The Creator.

Tyler, The Creator dikenal sebagai rapper, pemilik clothing line GOLF, designer, dan juga director. Apa yang membuat saya tertarik dengan sosok Tyler? Pertama, dia jenius. Untuk hal ini saya kesulitan menjelaskan betapa jeniusnya Tyler, tapi teman-teman bisa lihat video interview dia di sini. Kedua, seperti nama panggungnya, The Creator, Tyler senang membuat hal-hal yang ia anggap keren. Namun yang perlu digaris bawahi adalah apa yang menurutnya keren itu nggak selalu sesuai dengan selera pasar. Nyatanya Tyler tetap membuatnya dan menjadi dirinya sendiri.

Hal yang saya pelajari dari Tyler adalah lakukan apa yang ingin dilakukan. Nggak perlu pusing mikirin bagaimana orang akan menilai. Kata Tyler, “Think about yourself. We are not here to please others“. Jadi lakukan sesuatu karena memang pada dasarnya senang melakukan itu, tapi jangan lupa untuk melakukannya dengan baik.

“People are scared to try anything new. It sucks and they will never progress as a person to stand out from the others.” – Tyler, The Creator

(Fun fact: keinginan saya menggunakan nama ‘Bonanzha’ terinspirasi dari Tyler, The Creator. Menggunakan nama ‘Bonanzha’ menjadi pengingat saya untuk selalu berusaha mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan.)

2. Matt D’Avella

Matt D’Avella adalah sutradara film dokumenter Minimalism dan juga content creator. Saya pertama kali tau Matt dari videonya di Youtube. Tema videonya seputar gaya hidup minimalis dan pengembangan diri. Ada beberapa nilai lebih dari video-video Matt. Pertama, sinematografi yang diperhatikan dengan baik. Wajar karena Matt memang berkutat di industri perfilman. Kedua, ia pintar dalam storytelling. Menurut saya, nggak banyak content creator yang bisa mengemas video dengan cerita yang rapi.

Matt D’Avella seakan memberi standar baru untuk saya dalam membuat sebuah karya. Matt berusaha memberikan makna lewat video yang berkualitas. Matt menyadarkan saya untuk membuat apa yang penting, bukan yang penting buat.

“I’m tired of clickbait, reverse engineered titles & catchy thumbnails. I want to inspire you to make meaningful content & live a life of purpose.” – Matt D’Avella

(Fun fact: berkat video-video Matt, saya jadi tertarik dan mulai menjalani gaya hidup minimalis.)

3. David Beckham

Sepertinya nggak perlu lagi menjelaskan siapa David Beckham. Lalu apa yang membuat saya tertarik dengan Beckham? Jujur, saya justru lebih mengikuti kehidupan Beckham di luar sepak bola. Dia terlibat dalam project UNICEF, menjadi ambassador beberapa brand, dan juga sosok kepala keluarga yang luar biasa. Meski udah pensiun, Beckham masih eksis sampai sekarang. Bagaimana caranya menjaga eksistensi dijelaskan oleh Bloomberg di sini.

Tentu Beckham masih sering tampil di media. Mungkin sebagian orang hanya melihatnya dari penampilan. Namun buat saya, ada hal lain yang bisa dilihat dari Beckham. Hampir di semua interview-nya, ia tampak ramah, bersahabat, dan rendah hati. Ia selalu tersenyum, berkata dengan tenang, dan menghargai lawan bicara. Beckham punya tata krama yang membuatnya mudah dikagumi.

“It’s so important to have manners and treat people from all walks of life the way they should be treated.” – David Beckham

Bertemu Tyler, The Creator, Matt D’Avella, dan David Beckham adalah paket lengkap buat saya. Ibarat dalam pembuatan film, ada pra produksi, produksi, dan post produksi. Tyler mengajarkan saya pra produksi. Penting untuk menyadari bahwa saya sebenarnya punya kebebasan untuk membuat apapun yang saya mau.  Matt D’Avella mengajarkan produksi. Nggak hanya sekadar membuat sesuatu, tapi buatlah sesuatu itu menjadi penting. David Beckham mengajarkan post produksi. Di luar apa yang saya buat, saya mungkin akan menceritakan ke orang lain tentang apa yang saya buat. Punya tata krama tentu akan membuat orang lain lebih bisa menerima apa yang saya buat.

***

Terima kasih tahun 2018 yang telah banyak memberikan kesempatan saya untuk belajar. Saya akan berusaha menjalani 2019 dengan lebih siap dan percaya diri.

Visit Us On TwitterVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram